Page 40 - E-Gepang
P. 40
Elang jawa (Spizaitus bartelsi), Raja udang (Halcyon cyanoventris),
Burung kuda (Garulax rufifrons), Burung kipas (Rhipidura javanica),
Gelatik gunung (Psaltris exilis), dan lain-lain. Dengan banyaknya jenis
burung (termasuk banyaknya jenis endemik) yang mampu bertahan
hidup di TNGGP, maka para ahli burung (ornitolog) internasional
menetapkan kawasan TNGGP sebagai daerah penting bagi burung
(IBA) dan daaerah penting bagi burung endemic (EBA).
Di kawasan TNGGP ditemukan sekitar 10 (sepuluh) tipe ekosistem,
yaitu ekosistem hutan hujan pegunungan rendah (sub montana),
hutan hujan pegunungan (montana), hutan hujan pegunungan tinggi
(sub alpin), padang rumput pegunungan, rawa pegunungan, rawa air
panas, ekosistem kawah, ekosistem danau, ekosistem air deras
(sungai), dan ekosistem hutan tanaman.
6. Ekonomi Kawasan
Di kawasan TNGGP mengalir sekitar 58 sungai dan 1.075 anak sungai,
yang termasuk pada 3 (tiga) Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS
Ciliwung Cisadane, DAS Citarum Cisoka, dan DAS Cimandiri. Potensi
air dari kawasan TNGGP sebesar 213 milyar liter/ tahun atau Rp
4.341 trilyun liter/ tahun yang dimanfaatkan untuk kebutuhan
rumah tangga, industri, pertanian, dan keperluan lain.
Di samping penting sebagai tangkapan air, kawasan TNGGP ini juga
sangat diperlukan keberadaannya sebagai paru-paru dunia. Produksi
oksigen (O2) sebanyak 496.800 ton/ tahun ˷ Rp 49.680.000.000,-.
Stok karbon pada ekosistem hutan TNGP sebesar 142,19 – 232,91 ton
C/ Ha maka potensi jasa lingungan karbon TNGGP dapat digunakan

